Bung Rendra dan Isu Politik Kontemporer
Ahmad Syafii Maarif
Guru Besar Sejarah dan Pemikiran Islam
Dengan segala senang hati saya memenuhi permintaan panitia untuk sekadar membuat catatan kaki sekitar W.S. Rendra yang pada bulan Nopember 2005 genap berusia 70 tahun, sebuah rentang usia manusia Indonesia yang patut disyukuri. Rendra adalah satu di antara budayawan Indonesia yang tidak pernah absen dalam berkarya dan bersuara. Perhatiannya kepada masalah-masalah mendasar bangsa tidak pernah menyusut dan berkurang.
Beberapa isu fundamental bangsa: demokrasi dan daulat rakyat, budaya maritim, kemerosotan kualitas kepemimpinan bangsa, adalah di antara masalah yang sering disorotinya melalui puisi dan pernyataan-pernyataan publiknya yang tajam tanpa basi-basi. “Selamat berulang tahun ke-70 Bung Rendra, Anda harus hidup 1000 tahun lagi sampai bangsa ini menjadi siuman betul untuk tidak lagi berkubang dalam dosa dan dusta yang menyebabkan rakyat kecil terlantar tak terurus dalam tenggang waktu yang panjang.”
Bung Rendra di Mata Saya
Saya termasuk yang agak terlambat mengenal budayawan yang satu ini, sekalipun dulu ia lama menetap di Jogja dengan Bengkel Teaternya yang terkenal itu. Isteri saya Hj. Nurkhalifah sesekali melihat latihan-latihan drama yang digelar di teater yang berlokasi di Patangpuluhan itu, sementara saya sendiri belum pernah ke sana. Akan tetapi, dalam hati saya berharap bahwa akan tiba suatu saat untuk mengenal tokoh ini dari jarak yang dekat.
Demikianlah pada suatu malam beberapa tahun yang lalu saya diundang oleh musikus Setiawan Djodi untuk menghadiri pertemuan di rumahnya di Jakarta. Di sanalah saya bertemu Rendra dan sempat berbincang-bincang tentang berbagai masalah bangsa yang sedang diterpa banyak persoalan yang ruwet. Terasa dalam pembicaraan itu terdapat titik-titik temu pandangan dan pemikiran antara kami. Sejak itu tali silaturrahim terus dianyam dan dirajut sampai hari ini, makin lama makin intens dan mendalam.
Beberapa kali saya diundang ke padepokannya yang terbuat dari kayu di Depok, Jawa Barat. Bung Rendra pernah pula berkunjung ke PP Muhammadiyah Jakarta dan Jogjakarta sewaktu saya menjadi ketuanya, dan pasti terjadi dialog. Di padepokannya pernah kami berdiskusi dengan beberapa teman a.l.: Eep Saefullah Fatah, Anas Urbaningrum, Joseph Handojo (cendekiawan Katolik yang menetap di Belgia), Duta Besar Sulaiman Abdulmanan yang pada saat itu bertugas di Belgia. Pernah juga hadir Farid Fakih, tokoh LSM yang pernah dianiaya aparat di Aceh beberapa waktu lalu.
Pada saat AJ (Akedemi Jakarta) perlu melengkapi pengurusnya sekitar tiga tahun yang lalu, Bung Rendra menghubungi saya agar mau dicalonkan untuk masuk ke dalam. Bahkan saya dimintanya, jika bersedia, untuk diusulkan menjadi ketua. Jawaban saya adalah bahwa saya mau jadi anggota, tetapi tidak menjadi ketua. Akhirnya, saya diterima masuk dan pergaulan dengan para cendekiawan, seniman, dan budayawan AJ menjadi babak baru dalam kehidupan saya. Saya semakin belajar tentang manusia dengan berbagai karakternya yang menonjol, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Berkat Rendra, di AJ saya mulai berkenalan dengan Saini KM, Nh. Dini, Ramadhan KH, Misbach J. Biran, A.D. Firous, Sitor Situmorang, dan banyak yang lain. Sementara dengan Pak Koesnadi Hardjasoemantri (Ketua AJ), Taufik Abdullah, Gunawan Mohamad, Ajip Rosidi, Nono Anwar Makarim, saya sudah kenal agak lama. Bung Rendra termasuk di antara anggota yang sering datang rapat, umumnya sekali dalam sebulan.
Dalam rapat AJ ini saya menyaksikan debat-debat dan adu argumen tentang berbagai masalah budaya, politik, kesenian di antara sesama anggota. Bung Sitor yang pernah datang sekali terlibat dalam debat sengit dengan anggota yang lain. Dengan emosi tinggi, Bung Sitor mengancam akan ke luar dari AJ jika pendapat-pendapatnya tidak diperhatikan. Gunawan Mohamad dengan santai menjawab: “Silakan kalau mau ke luar.” Rendra dan saya biasanya menjadi mediator untuk meredam emosi yang kadang-kadang tak terkendali.
Dengan teman-teman, saya masih terus belajar tentang manusia Indonesia yang diwakili tokoh-tokoh penting di AJ. Semakin fahamlah saya bahwa pada kondisi-kondsi tertentu, rasio manusia bertekuk lutut di depan emosi, siapa pun mereka itu. Pak Koesnadi sebagai Ketua AJ benar-benar manusia yang tenang, penuh kontrol diri sehingga rapat-rapat AJ dapat berlangsung dengan lancar.
Rendra tentang Isu-isu Kontemporer
Adalah Bung Rendra yang tak henti-hentinya mengingatkan bangsa ini akan pentingnya masalah maritim yang tak terurus selama ini, padahal nasib masa depan kita akan sangat banyak bergantung kepada potensi laut yang masih dahsyat. Bukankah Indonesia adalah negara kepulauan yang sebagian besar terdiri dari laut?
Dalam usianya 70 tahun, Rendra sering dengan perasaan getir bertanya mengapa pemimpin Indonesia, apalagi politisinya, tetap saja tidak hirau dengan potensi laut ini. Kedangkalan cara merasa dan berfikir bangsa inilah yang merisaukan Rendra, tetapi tidak sampai membawanya kepada patah harapan. Oleh sebab itu, dia terus berkhutbah dan berkhutbah tanpa mengenal lelah, mengingatkan kita semua tentang masalah fundamental yang terlupakan di tengah-tengah hiruk pikuk persaingan politik yang tidak bermutu.
Isu lain yang menjadi sorotan sahabat kita ini adalah tentang konsep “daulat rakyat vs daulat tuanku.” Menurut Rendra, konsep daulat rakyat yang menjadi doktrin politik utama Bung Hatta sejak masa pergerakan nasional sering benar bersimpuh di depan keperkasaan doktrin “daulat tuanku,” warisan Mataram dan warisan kolonial. Bagi Rendra, baik presiden kita yang pertama, maupun yang kedua, sama-sama melestarikan doktrin “daulat tuanku.”
Akibatnya, demokrasi yang diperjuangkan menjadi lumpuh tak berdaya, karena budaya politik pedalaman yang berkiblat kepada konsep “daulat tuanku” mengalahkan budaya poltik maritim yang bertumpu kepada formula “daulat rakyat.” Apa yang disuarakan Rendra ini sebenarnya tidak lain dari suara kaum pergerakan nasional yang sebagian telah lupa lautan dan lupa daratan setelah duduk di puncak-puncak kekuasaan.
Sebagai priyayi Jawa proper, Rendra memang punya otoritas penuh untuk menyuarakan isu-isu besar di atas, sebab ia faham betul bahwa demokrasi tidak mungkin tegak di atas fondasi feodal atau semi-feodal sebagai warisan budaya politik pedalaman masa lampau. Rendra jelas lebih berpihak kepada budaya maritim Sriwijaya dan Demak tinimbang budaya feodal Mataram yang anti-demokrasi.
Dalam sistem feodalisme, menurut Rendra, kemerdekaan menusia tidak punya tempat, semuanya diabdikan kepada kekuasaan sentralistik yang menentukan hitam-putihnya politik negara. Dalam perspektif inilah Rendra mengeritik keras ucapan Bung Karno sebagai penyambung lidah rakyat. Rendra bertanya: apakah rakyat tidak punya lidah, mengapa harus disambung segala? Kritik tajam semacam ini, khas Rendra, yang memang telah mendalami budaya politik Mataram yang kental dengan doktrin “daulat tuanku” itu.
Saya tidak tahu sejak usia berapa Bung Rendra punya sikap politik yang egalitarian ini. Apakah sejak masa sekolah menengah atau setelah tampil sebagai budayawan lokal untuk kemudian meroket menjadi budayawan nasional dan dunia. Kepada Joseph Handojo pernah saya katakan agar dijajaki di Eropa Barat tentang kemungkinan Rendra diusulkan untuk mendapatkan Hadiah Nobel di bidang sastra dan kritik sosial. Konsisitensi Rendra dalam menyikapi isu-isu besar bangsa tak seorang pun yang akan menafikannya. Penyair Burung Merak ini tidak pernah bergeming dalam membela prinsip kemerdekaan manusia, kemerdekaan rakyat, sebab tanpa kemerdekaan, apa bedanya dengan budak yang dirantai atau yang dilepas.
Rendra pada hemat saya telah tampil sebagai pemikir politik tanpa tergiur untuk merapatkan dirinya dengan kekuasaan. Sebagai manusia merdeka, ia tidak peduli apakah ada pihak yang akan tersinggung kena sengat kritiknya, sebab di balik itu semua bersemayam cintanya yang teramat dalam kepada bangsa dan negara ini. Di bawah sistem otoritarian, ruang gerak kepenyairannya sangat diawasi, bahkan dilarang tampil ke pentas, tetapi ia tetap bersuara melalui berbagai media. Dia tidak bisa direm, tidak bisa dipasung, karena bersuara adalah bagian yang telah menyatu dengan seluruh kepribadiannya. Semua rem dan pasungan itu pasti akan dihancurkan dan dibuatnya berantakan.
Akhirnya
Bung Rendra sekeluarga, sekali lagi selamat ulang tahun ke-70, semoga persahabatan kita abadi, langgeng, dan memberikan sesuatu yang bermakna bagi bangsa ini, betapa pun kecil yang dapat ditawarkan. Bangsa ini terlalu besar untuk dibiarkan oleng di tangan sebagian politisi yang rabun ayam.
*Air Dingin (Padang), 17 September 2005
Penyunting: Nirwansyah
Redaksi JIBPost
Media jaringan berkemajuan dalam keberbagaian. Tidak kaku dan tidak beku. Cair mengalirkan kebajikan dan kemanusiaan. Progresif dan berkemajuan.
Tinggalkan Balasan
- Trending
- Comments
- Latest












Tidak ada komentar:
Posting Komentar