Manusia hidup itu, mengalami dua fase kehidupan secara sekaligus yaitu alam fisika dan metafisika dalam terminologi tasawuf alam metafisika disejajarkan dengan alam transendental.
Ketika kita tertidur pulas dan masuk fase teta, lalu delta, untuk selanjutnya mengalami tidur paradoksal. Hormon stres yang disebut kortisol mengalami penurunan, dan kita merasakan 'Sleep Spindles.' Bagi sebagian orang, pada fase ini, orang tidur dengan suara mendengkur. Dan di saat itu, sering kali mengalami mimpi, misalnya bertemu dengan seseorang yang kita ketahui sudah tiada. Ini sesungguhnya penjelasan sederhana tentang transendental. Dalam kajian tasauf, kita sedang masuk ke alam transenden.
Bagi kalangan sufistis, masuk ke alam transenden sudah menjadi hal biasa. Perhatikan mereka yang hampir setiap malam menghabiskan sebagian malamnya "taqarrub" menyapa sang pemilik kehidupan, dengan sangat asyik, dan mabuk zikir-zikir kepada Rabbul izzati, Tuhan semesta alam. Mereka itu, sudah biasa menembus alam transenden.
Transendental secara harafiah dapat diartikan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan hal yang melampaui pemahaman terhadap pengalaman biasa atau sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara penjelasan ilmiah. Hal-hal yang transenden selalu bertentangan dengan dunia material atau alam fisika. Maka dalam kuliah filsafat ilmu, kajian transendental dapat digabungkan dengan kajian tentang metafisika. Bahkan Immanuel Kant sang filosof, menggunakan kata transendental ketika menyebutkan transendental sebagai aplikasi prinsip dasar dari pemahaman murni yang melampaui atau mengatasi batas-batas pengalaman manusia.
Dalam pengetahuan islam, karena kita meyakini ada kehidupan yang bersifat transenden, maka segala gerak, aktivitas dan pekerjaan kita, sejatinya harus bisa menghadirkan dua dimensi tersebut. Bahkan dalam konteks tertentu, Al-Qur'an lebih dahulu mementingkan alam transenden dibandingkan dengan alam non transenden. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. al-Qashash [28]:77).
Salah-satu cara mengimplementasikan dua dimensi yang berbeda itu, islam telah mengajarkan, salah satunya adalah dengan gerak, ucap "basmallah" atau "bismillahirrahmanirrahim". Orang muslim sangat dianjurkan, dalam memulai segala aktivitas dimulai dengan bacaan tersebut.
Di dalam kitab Lubbabul Hadis bab ketiga, imam As-Suyuthi (w. 911) telah menuliskan sepuluh buah hadis tentang fadhilah atau keutamaan lafaz bismillahirrahmanirrahim. Di antaranya hadis sebagai berikut:
وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ قَالَ بِسْمِ الله الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ كُتِبَ اسْمُهُ مِنَ الأبْرَارِ وَبرِىءَ مِنَ الكُفْرِ والنفاقِ}.
Nabi saw. bersabda, “Siapa yang membaca bismillahirrahmanirrahim maka namanya akan ditulis sebagai orang-orang yang baik dan terbebas dari kekufuran dan kemunafikan.”
Maka dari itu, awali setiap pekerjaan yang kita lakukan dengan ucapan basmallah, agar dimensi transendental kita capai, disamping nilai fisika atau hasil dari apa yang kita kerjakan, tercapai secara sempurna dan maksimal. Sudah waktunya zuhur, mari kita shalat awali dengan basmalah, lalu makan siang dengan dimulai "basmalah".
#Tabik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar