Kamis, 22 Oktober 2020
*“MENAKAR GAYA KEPEMIMPINAN DI MUSIM PANDEMI”*
Secara umum, manusia oleh Allah Ta’ala diberikan potensi kemanusiaan yang paling mulia, pandai dan cerdas. Manusia diciptakan oleh Allah Ta’ala paling sedikitnya memiliki dua tugas mulia. Pertama, sebagai ‘abdullah (hamba Allah). Manusia berkewajiban memperbanyak ibadah kepada-Nya sebagai bentuk tanggung jawab moral ‘ubudiyah terhadap Tuhan yang telah menciptakannya. Kedua, sebagai khalifatullah (pemimpin) yang memiliki makna jabatan ilahiyah sebagai “pengganti Tuhan” dalam mengurus alam. Manusia sebagai khalifah memiliki kewajiban menjaga perdamaian, melakukan perbaikan dan tidak membuat kerusakan yang berimplikasi bagi dirinya sendiri maupun mahluk lain di muka bumi ini.
Menjadi pemimpin bagi manusia adalah amanat ketuhanan yang sangat besar dan berat tanggung jawabnya. Langit dan bumi menolak amanat yang diberikan Allah karena melihat beratnya tanggung jawab ini. (QS. Al-Ahzab (33): 72). Tanggung jawab manusia tidak ansich sebagai pemimpin tetapi juga hamba (‘abdun), ini artinya pemimpin tidak hanya orang yang memiliki jabatan tertentu dalam sebuah organisasi melainkan manusia sebagai pemimpin dalam sekala mikro (kecil).
*Makna Pemimpin*
Dalam hadis Riwayat Bukhari dari Abdullah Ibn Umar diriwayatkan bahwa Rasululah saw bersabda, “Ketahuilah: kalian semua adalah pemimpin (pemelihara) dan bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya tentang rakyat yang dipimmpinnya. Suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawabannya tentang keluarga yang dipimpinnya. Isteri adalah pemelihara rumah suami dan anak-anaknya. Budak adalah pemelihara harta tuannya dan ia bertanggung jawab mengenai hal itu. Maka camkanlah bahwa kalian semua adalah pemimpin dan akan dituntut
(diminta pertanggungjawaban) tentang hal yang dipimpinnya”.
Persepsi umum terhadap makna pemimpin, ditujukan oleh seseorang yang memiliki jabatan dalam sebuah organisasi, instansi atau lembaga tertentu. Padahal sesungguhnya, yang disebut pemimpin itu adalah semua orang dari level ulil amri (pemerintah) sampai pada pemimpin dalam tingkatan rumah tangga. Dalam klausa hadis riwayat Bukhari di atas, dapat dipahami bahwa kepemimpinan itu berlaku bukan hanya dalam aspek pemerintah tetapi juga setiap orang atau individu memiliki tugas dan tanggung jawab, mengarahkan yang di pimpinnya kepada jalan kebaikan dan kebenaran. Dan setiap individu memiliki fungsi control terhadap dirinya secara pribadi, bahwa kelak semuanya itu akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah Ta’ala.
*Tanggung Jawab Seorang Pemimpin*
Istilah pemimpin dalam hadis disebut dengan “ar-raa’ii” artinya penggembala. Tugas seorang pemimpin sejatinya tidak jauh berbeda dengan seorang penggembala kambing, yaitu memelihara, mengawasi, melindungi gembalaannya. Oleh sebab itu, seorang pemimpin dituntut untuk selalu memperhatikan aspirasi rakyatnya. Sebagaimana QS. An-Nahl (16): 90. Dari ayat ini bisa dipahami bahwa setiap pemimpin harus bisa berbuat adil di mana saja berada. Tugas pemimpin tidaklah mudah bahkan sesuatu yang sangat berat. Selain harus bisa berlaku adil, seorang pemimpin harus menyadari amanah yang telah diberikan Allah kepadanya. Dengan kesadaran ini, ia berusaha memberikan pelayanan yang baik kepada rakyatnya. Dalam terminologi manajemen dikenal dengan istilah servant leader (pemimpin yang melayani).
*Gaya Kepemimpinan*
Dalam manajemen organisasi, style seorang pemimpin dapat dikenali dari gayanya memimpin. Ada tiga gaya kepemimpinan yang paling umum. Pertama, gaya kepemimpinan otokratik. Model pemimpin otokratik dapat dicirikan sebagai berikut; setiap kebijakan yang diambil selalu bersifat terpusat dan ditentukan sendiri oleh pemimpin. Gaya komunikasinya top down (satu arah ke bawah). Dari aspek kepribadian pemimpin otokratik senang kepada pujian dan sangat mengecam keras terhadap kecaman. Kedua, gaya kepemimpinan demokratik. Gaya kepemimpinan demokratik ditandai dengan keterbukaannya dalam berdiskusi dengan bawahan. Pembagian tugas (job description) ditentukan oleh hasil diskusi itu sendiri, semua orang punya hak yang sama dalam mengeluarkan pikiran dan pendapatnya. Komunikasi yang dipakai adalah two way communication (komunikasi dua arah). Seorang pemimpin demokratik ia selalu bersifat objektif dalam menilai bawahannya, ia tidak mudah terprovokasi oleh orang lain, dan selalu mengedepankan rasionalitas dalam setiap mengambil keputusan. Ketiga, gaya kepemimpinan laissez faire. Kata “laissez faire” adalah frasa Bahasa Prancis yang berarti “biarkan terjadi”. Istilah ini diambil dari diksi Prancis digunakan pertama kali oleh para psiokrat pada abad ke 18 sebagai bentuk perlawanan terhadap intervensi pemerintah dalam perdagangan. Laissez-faire menjadi sinonim untuk ekonomi pasar bebas yang ketat selama awal dan pertengahan abad ke-19.
Seorang tipe pemimpin gaya ini, cenderung berpikir bebas. Bawahan diberikan kebebasan dalam melakukan tugasnya tidak ada intervensi dari atas. Komunikasi yang digunakan bersifat down up (satu arah ke atas). Dalam hal kepribadiannya, pemimpin gaya laissez faire, ia hanya menentukan tujuan umum dari sebuah organisasi, tinggal bawahannya yang akan menterjemahkan, dari tujuan umum menjadi tujuan khusus dari sebuah organisasinya.
*Kepemimpinan di Masa Pandemi*
Dalam kaidah ushul fiqh disebutkan, “Jika bertentangan antara bahaya dan kebaikan maka secara umum didahulukan menolak bahaya”. Nabi saw bersabda: “Jika aku perintahkan kalian dengan satu perintah maka laksanakanlah semampu kalian, dan jika aku larang kalian dari sesuatu maka jauhilah.” Dari sini terdapat kemurahan dalam meninggalkan sebagian kewajiban sebab adanya “masyaqqat” yang ringan, misalnya tidak berdiri dalam shalat, karena sakit. Berbuka puasa karena uzur syar’i. Contoh lainnya, adalah almubalaghoh dalam berkumur dan menyerap air ke dalam hidung disunnahkan namun makruh hukumnya bagi orang yang sedang berpuasa.
Dalam kaidah yang lainya, “Bahaya yang bersifat khusus ditanggung untuk menolak bahaya yang bersifat umum”. Seorang Dokter yang bodoh di larang melakukan praktek, (kebodohannya bersifat khusus) namun jika dibiarkan melakukan pekerjaannya, maka Dokter tersebut bisa menimbulkan bahaya yang bersifat umum yaitu banyak orang yang meninggal disebabkan kebodohan dari seorang dokter tersebut. Dengan demikian, bahaya yang bersifat umum ditolak dengan menanggung bahaya yang bersifat khusus. Contoh lain dari implementasi kaidah ini adalah, boleh menghancurkan rumah yang berada di depan kebakaran untuk mencegah menjalarnya api. Jika ada bangunan yang miring hampir roboh maka pemiliknya boleh dipaksa untuk merobohkannya karena dikhwatirkan akan menimpa orang-orang di sekitarnya.
Seorang pemimpin akan selalu menjadi panutan bagi rakyatnya, pun demikian seorang ulama, akan menjadi suri tauladan bagi umatnya. Maka menjadi seorang pemimpin atau pemuka agama di tengah pandemic covid-19 ini haruslah bisa mengarahkan dan membimbing, kepada kebaikan (maslahat) bukan malah sebaliknya menganjurkan untuk “bunuh diri” massal dengan mengajarkan “tidak” mempercayai adannya virus yang bersifat pandemic ini.
Sosok pemimpin sekaligus ulama yang bisa dijadikan contoh terdapat dalam kisah heroik Thariq bin Ziyad (670-720) dikenal dalam sejarah Spanyol sebagai legenda adalah seorang jendral dari dinasti Umayyah yang memimpin penaklukan muslim atas wilayah Al-Andalus (Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar dan sekitarnya) pada tahun 711 M. Kemenangan pasukan muslim dalam penaklukan Andalusia banyak dipengaruhi oleh semangat juang yang berhasil dikobarkan oleh Thariq bin Ziyad dimana dia memerintahkan untuk membakar semua kapal sehingga tidak ada jalan untuk melarikan diri selain bertempur habis-habisan melawan musuh sampai meraih kemenangan atau mati sebagai syuhada. Thariq bin Ziyad merupakan sosok pahlawan yang mampu membawa kejayaan Isam di masanya.
Menurut P. De Gayangos, sebagaimana yang dikutip oleh Ahmad Thomson berikut ini adalah pidato yang disampaikan Thariq bin Ziyad kepada para prajuritnya:
_"Ke manakah kalian dapat melarikan diri sementara musuh berada di depan dan lautan berada di belakang kalian? Demi Allah! Tak ada keselamatan bagi kalian kecuali dalam keberanian dan keteguhan hati kalian._ _Pertimbangkanlah situasi kalian: kalian berdiri di atas pulau ini bagaikan begitu banyak anak-anak yatim terlontar ke dunia; kalian akan segera bertemu dengan musuh yang kuat mengepung kalian dari segala penjuru bagaikan gelombang kemarahan samudera yang bergejolak, dan mengirimkan prajurit-prajurit yang tak terhitung banyaknya pada kalian, bala tentara baju besi dan dilengkapi dengan segala senjata yang pernah ada._
_Apa yang dapat kalian gunakan untuk melawan mereka?_
_Kalian tak memiliki senjata lain kecuali pedang, tak punya perlengkapan lain kecuali yang telah kalian rampas dari musuh kalian._ _Oleh karena itu, kalian harus menyerang mereka dengan segera atau jika tidak, maka hasrat kalian untuk menyerah akan tumbuh, angin kemenangan takkan lagi berhembus di pihak kalian, dan barangkali rasa gentar yang bersembunyi di hati musuh-musuh kalian akan berganti menjadi keberanian yang sukar dikekang!_
_Buanglah segala ketakutan dari hati kalian, percayalah kemenangan akan menjadi milik kita dan percayalah bahwa raja kafir itu tak akan mampu bertahan menghadapi serangkan kita._ _Ia telah datang untuk menjadikan kita tuan dari kota-kota dan kastil-kastil yang dikuasainya, serta menyerahkan pada kita harta karunnya yang tak terhitung banyaknya._ _Dan jika kalian menangkap peluang yang kini tersedia, maka itu bisa menjadi cara bagi kalian untuk memiliki semua itu, di samping akan menyelamatkan diri kalian dari kematian yang tak terelakkan._
_Janganlah berpikir bahwa aku membebankan tugas kepada kalian sementara aku sendiri akan lari menghindar, atau aku menutup-nutupi bahaya yang ada dalam mengemban ekspedisi ini._ _Tidak! Kalian memang akan menghadapi datangnya masalah besar, tetapi juga kalian mengetahui bahwa kalian hanya akan menderita sebentar saja._ _Di akhir pertempuran ini kalian akan memungkuti panenan kebahagiaan dan kesenangan yang melimpah-limpah._ _Dan jangan bayangkan bahwa sementara aku berkata ini pada kalian, aku berniat untuk tidak melakukannya, sebab hasratku dalam pertempuran ini jauh melebihi hasrat kalian. Apa yang akan aku lakukan melebihi apa yang akan kalian lakukan._ _Kalian pastilah telah mendengar keunggulan yang melimpah ruah dari pulau ini, kalian pastilah telah mendengar bagaimana para perawan Yunani, sama rupawannya dengan bidadari, leher mereka berkilau dengan mutiara dan permata tak terbilang banyaknya, tubuh mereka mengenakan tunik terbuat dari sutera-sutera mahal bertabur emas, mereka menunggu kedatangan kalian. Mereka bersandar di atas dipan-dipan empuk di dalam istana-istana mewah para bangsawan dan pangeran bermahkota._
_Kalian mengetahui benar bahwa Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik telah memilih kalian seperti begitu banyak pahlawan lain dari kalangan para pemberani. Kalian tahu bahwa bangsawanbangsawan besar tanah ini memiliki hasrat besar untuk menjadikan kalian anak mereka dan mengikat kalian dengan pernikahan, hanya jika kalian menyambut peperangan sebagaimana layaknya orang-orang berani dan pejuang sejati, serta menjadi ksatria yang berani. Kalian mengetahui bahwa rahmat Allah menantikan kalian jika kalian bersiap untuk menegakkan kalimat-Nya dan memproklamirkan dien-Nya di tanah ini._
_Dan yang terakhir, tentu saja barang rampasan akan menjadi milik kalian dan kaum Muslim lainnya. Ingatlah baik-baik bahwa Allah Yang Mahaperkasa akan memilih sesuai janji ini yang terbaik di tengah kalian dan menganugerahinya pahala, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Dan ketahuilah aku akan berbuat demikian juga. Aku akan menjadi orang pertama yang akan memberi contoh pada kalian dan melakukan apa yang aku anjurkan pada kalian. _Sebab inilah tujuanku, saat pertemuan dua pasukan ini, untuk menyerang raja Kristen yang lalim itu, Roderic dan membunuhnya dengan tanganku sendiri! Insya Allah._
_Saat kalian melihatku berkelahi mati-matian melawannya, seranglah musuh bersamaku. Jika aku membunuhnya, kemenangan menjadi milik kita._ _Jika aku terbunuh sebelum mendekatinya, jangan kalian bersusah payah karena aku, tetaplah bertempur seolah aku masih hidup dan berada di tengah kalian, dan ikuti tujuanku, sebab saat mereka melihat rajanya jatuh, pastilah kaum kafir ini akan kocar-kacir. Akan tetapi, jika aku terbunuh setelah menewaskan raja mereka itu, tunjuklah seseorang di antara kalian yang di dalam dirinya terdapat perpaduan antara keberanian dan pengalaman, serta mampu memimpin kalian dalam situasi genting ini, dan menindaklanjuti keberhasilan kita._
_Jika kalian melaksanakan intruksi-intruksiku, niscaya kita akan menang!"._
_Inilah sejatinya seorang pemimpin, di dalam dirinya terdapat sifat “ar-raa’ii”._ _Tugas seorang pemimpin adalah memelihara, mengawasi dan melindungi gembalaannya. Oleh sebab itu, seorang pemimpin dituntut untuk selalu memperhatikan aspirasi rakyatnya._ _Demikian juga seorang ulama, sejatinya memberikan “keteduhan” dalam masa pandemic covid-19 ini bukan malah menjadi provokator hanya untuk sebuah hazard “keuntungan” sesaat. (HMAM) Wallaahu’alamu bis showaab._
_Daftar Pustaka:_
1.
https://id.wikipedia.org/wiki/Thariq_bin_Ziyad
2.
http://www.almunawwar.or.id/makna-penting-dari-dua-qaidah-ushul-fiqih-yangberkaitan-dengan-bahaya/
3.
https://images.app.goo.gl/FiTitF92qQfrv6sw7
4.
http://sanadthkhusus.blogspot.com/2011/05/tanggung-jawab-seorangpemimpin.html?m=1
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar