Selasa, 18 Agustus 2020
Ulama Betawi Ujung Tombak Kemerdekaan RI
1. Guru Mansur Sawah Lio. Lahir tahun 1878 – wafat tahun 1967. Kakek dari Ustadz Yusuf Mansur ini adalah seorang ulama karismatik Betawi. Didalam darahnya mengalir darah para pejuang besar pada masa lalu. Dikenal sebagai sosok yang sangat keras terhadap penjajahan. Beliau merupakan lulusan Mekkah. Tahun 1948 secara heroik beliau berani memasang bendera merah putih di menara Masjid Kampung Sawah. Akibatnya menara masjid ditembaki pasukan Belanda. Saking begitu kerasnya Belanda pernah menawarkan setumpuk uang melalui kaki tangannya agar Guru Mansur melunak, namun justru dijawab beliau dengan nada keras, “ane gak mau ngelonin kebatilan!”.
2. Guru Marzuki bin Mirshod, Cipinang Muara. Beliau dijuluki sebagai “Gurunya Ulama Betawi.” Dilahirkan di Rawa Bunga, Jatinegara pada 5 Oktober 1877. Sekembalinya dari menuntut ilmu di Makkah pada tahun 1913 ia mengajar di Masjid al-Anwar Rawa Bunga, Jatinegara. Kemudian berpindah ke Kampung Cipinang Muara dan mengajar di sana sampai akhir hayatnya. Beliau hidup sezaman dengan Hadrotusyaikh Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), dan menjadi pimpinan NU untuk wilayah Betawi ketika itu.
Beliau juga ulama yang paling banyak menyusun kitab untuk menuliskan pemikirannya. Beliau memiliki pondok pesantren yang terkenal di tanah Betawi pada masa itu.
Dari didikannya kelak melahirkan para ulama terkemuka di tanah Betawi, di antaranya adalah:
KH Noer Alie (pahlawan nasional, pendiri perguruan At-Taqwa, Bekasi yang terkenal sebagai pejuang kemerdekaan 'Singa Karawanh Bekasi'),
Mu`allim Thabrani Paseban (kakek dari KH Maulana Kamal Yusuf),
KH Abdullah Syafi`i (pendiri perguruan Asy-Syafi’iyyah),
KH Thohir Rohili (pendiri perguruan Ath-Thahiriyyah),
KH Achmad Mursyidi (pendiri perguruan Al-Falah),
KH Hasbiyallah (pendiri perguruan Al-Wathoniyah),
KH Ahmad Zayadi Muhajir (pendiri perguruan Az-Ziyadah),
Guru Asmat (Cakung),
KH Mahmud (pendiri Yayasan Perguruan Islam Almamur/Yapima, Bekasi),
KH Muchtar Thabrani (pendiri YPI Annuur, Bekasi),
KH Muhammad Tambih, Bekasi.
KH Chalid Damat (pendiri perguruan Al-Khalidiyah), dan
KH Ali Syibromalisi (pendiri perguruan Darussa’adah dan mantan ketua Yayasan Baitul Mughni, Kuningan, Jakarta).
KH Raden Muhammad Amin (Guru Amin Kalibata).
3. KH Noer Ali (Singa Karawang Bekasi), lahir tahun 1914 – wafat tahun 1992, beliau didikan Guru Mugni Kuningan dan Guru Marzuki Cipinang, beliau juga lulusan Mekkah. Dalam perjuangan RI beliau pernah menjabat sebagai Komandan Batalyon III Hisbullah Bekasi. Sosoknya dikagumi Bung Tomo berkat perlawanannya yang heroik. Bung Tomo bahkan dalam pidatonya pada radio Surabaya sering menyebut nama KH Noer Ali. Pertempurannya yang terkenal melawan sekutu terjadi di wilayah Kali Sasak Pondok Ungu Bekasi pada tanggal 29 November 1945. Alhamdulillah saya pernah menjumpai beliau dalam berbagai kegiatan keagamaan.
4. KH Raden Muhammad Amin (Guru Amin Kalibata). Lahir 1901 – wafat 1965, di dalam darahnya mengalir darah para pejuang besar dari Jayakarta. Beliau adalah didikan dari Guru Marzuki, Guru Mansur dan juga lulusan Mekkah. Sahabat dari KH Nur Ali ini dikenal sebagai pejuang kemerdekaan yang keras perlawanannya terhadap Belanda. Pertempurannya yang terkenal terjadi di Front Timur khususnya Kalibata. Kelak wilayah pertempuran tersebut dijadikan TMP Kalibata. Dalam perjuangannya bersama santri yang dibinanya Guru Amin diburu hidup atau mati, rumah dan seluruh kitabnya juga telah dihancurkan Belanda sehingga menyebabkan dirinya menyingkir ke wilayah Cikampek untuk bergabung dengan pejuang pejuang lain. Alhamdulilahh salah satu putra beliau KH Hasbullah pernah saya sambangi untuk belajar sejarah tentang kiprah perjuangan ayah beliau.
5. KH Muhammad Arif (Haji Darif Klender). Lahir tahun 1886,wafat tahun 1981. Beliu lulusan Mekkah. Ia sangat disegani dan dihormati para pejuang 45. Beliau berhasil mengkoordinir para pemuda, para jagoan, para tokoh yang tersebar di wilayah Klender dan sekitarnya. Berkat perlawanannya yang keras Klender menjadi wilayah yang diwaspadai Belanda. Beliau jugq dijuluki “Panglima Perang Dari Klender”. Melalui komandonya beliau berhasil menjadikan Klender sebagai wilayah pertahanan yang merupakan gudang makanan dan persenjataan. Jaringannya juga luas, beliau berhasil melakukan hubungan dengan para tokoh pemuda saat itu. Melalui peran besarnya, tokoh-tokoh pemuda yang telah “menculik” Bung Karno dan Bung Hatta di Rengas Dengklok dan kemudian menempatkannya di rumah yang tidak layak akhirnya memindahkan ke rumah salah satu orang china berkat saran ulama tawadhu ini. Setelah kemerdekaan kelak Bung Karno mendatangi wilayah Klender dan memimpin rapat akbar untuk membangkitkan semangat rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan. Dalam kiprahnya pada perjuangannya Kyai Haji Darip penuh dengan peristiwa dramatis, beliau harus keluar masuk hutan, kelaparan, kehausan bahkan harus menyebrangi sungai demi menghindari kejaran Belanda, rumahnya bahkan habis dibakar Belanda. Haji Darip adalah pejuang besar yang terus dicari oleh Belanda. Pernah beliau tertangkap kemudian disiksa oleh Belanda karena keberadaanya bocor karena adanya mata-mata dari pribumi. Pada tahun 1950 Bung Karno memanggil sosok yang karismatik ini ke istana Cipanas, mereka kemudian saling berpelukan haru. Bagi Bung Karno sosok Haji Darif sangatlah dihormati. Bung Karno kagum akan kepemimpinan dan pengorbanan Haji Darif dalam perjuangan. ALhamdulilah saya pernah berziarah ke makam Ulama Pejuang Besar ini.
Mengenai kebesaran tokoh KH Darif, dalam sebuah berita koran harian Australia yang bernama "The Sydney Morning Herald" yang terbit pada tanggal 03 desember 1945 diantaranya menyebutkan sebagai berikut : "Tentara Inggris dan Belanda di Jawa Barat tahu, KH. Darip seorang Jenderal Indonesia sebagai musuh ekstremis nomer satu yang diyakini menjadi pemimpin 6000 pasukan fanatik yang memakai kemeja putih dan termasuk anggota masyarakat rahasia Jawa. Kebanyakan dari mereka adalah pemuda yang digerakkan oleh fanatisme agama yang kuat yang telah mengintai di bagian selatan Batavia sejak pertempuran dimulai.
6. KH Muhammad Tambih Bekasi. Beliau ini adalah didikannya Guru Marzuki Cipinang. KH. Muhammad Tambih, lahir tahun 1907 wafat tahun 1977. Didalam darahnya mengalir darah pejuang. Dalam perjuangannya pernah menghadang laju pasukan Sekutu di daerah Jatiwaringin (sekarang Pangkalan Jati Kalimalang) bersama tentara Hizbullah di bawah pimpinan (Komandan Sektor) seorang pemuda yang bernama Abdul Hamid (KH. Abdul Hamid) dari Jati Bening yang kemudian menjadi menantunya. Beliau dikenal mempunyai jaringan yang sangat luas, di Bekasi beliau dikenal dengan “tiga serangkai dari Bekasi” bersama dengan KH Noer Ali, KH Muhtar Tabrani.
7. KH Muhammad Muhajirin Amsar Addary , ulama besar yang dikenal luas pada masyarakat Bekasi, andilnya sangat besar dalam mempertahankan perjuangan RI. Lahir tahun 1921 wafat tahun 2003. Pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, KH Muhajirin aktif di organisasi Hizbullah yang bertugas sebagai penjalin ukhuwah di kalangan pejuang dengan landasan patriotisme dan nasionalisme yang tinggi. Salah satu murid Guru Majid Pekojan ini dikenal sebagai ulama yang gigih dalam belajar. Beliau juga merupakan lulusan Mekkah.
8. KH Ahmad Mursyidi Klender, lahir 1915, wafat tahun 1999. Di dalam darahnya mengalir darah para ulama. Beliau adalah didikan Guru Marzuki, Muallim Gayar, dll. Dikenal sebagai “tiga serangkai” yang ditakuti belanda, mereka adalah KH Darif, KH Hasbiyallah dan KH Ahmad Mursyidi. Pada saat wilayah Klender behasil dimasuki Belanda, KH Ahmad Mursyidi dan pejuang lain berhasil menjadikan wilayah Klender yang diduduki Belanda menjadi lautan api selama 2 jam.
9. KH Hasbiyallah Klender, lahir tahun 1913 wafat tahun 1982. Dalam darahnya telah mengalir darah para ulama, ayahnya adalah ulama besar yang bernama Muallim Gayar, sedangkan gurunya adalah Guru Marzuki, KH Abbas Buntet, beliau juga merupakan lulusan Mekkah. Dikenal sebagai “tiga serangkai Klender”. Beliau bergabung dengan Hizbullah dan melakukan perlawanan dengan gerilya dengan keluar masuk hutan. Dengan perlawanan yang gigih “tiga serangkai Klender” berhasil kembali menguasai Klender setelah sebelumnya dikuasai penjajah.
10. KH Rahmatullah Sidiq Kebayoran Lama, peran perjuangannya sangat menentukan perjuangan para laskar yang bertempur di beberapa front karena beliau bertugas menyediakan dan mengatur logistik. Bisa dibayangkan jika pasokan logistic tidak tersalur dengan baik maka bisa jadi kondisi pasukan melemah. Tidak mengherankan jika KH Rahmatullah Sidiq juga menjadi incaran belanda.
11. KH Muhammad Sasi Cililitan, berdasarkan informasi yang saya peroleh, KH Muhammad Sasi dikenal sebagai seorang pejuang kemerdekaan yang gagah berani , pernah menjadi target utama penjajah untuk dibunuh. Beliau dikenal dekat dengan Jenderal Nasution, Kasman Singodimejo, Muhammad Natsir, Syarifudin Prawiranegara.
Dan masih banyak lagi Ulama Betawi yang perjuangannya belum tercatat dalam tinta emas perjuangan RI.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar