Dalam pandangan para sejarawan, terdapat dua pendapat tentang kisah-kisah Walisongo; kelompok pertama dikemukakan oleh C.C. Berg berpendapat bahwa kisah-kisah tentang Walisongo tumbuh dari keyakinan umum masyarakat dan tidak mempunyai dasar sejarah sama sekali.
Kelompok kedua, dikemukakan oleh H.J. De Graaf dan Th. Pigeaud menyatakan bahwa banyak aspek dalam kisah itu dapat diterima sepanjang tidak bertentangan dengan pengetahuan moder serta tidak memuat hal-hal yang gaib.
Literatur jawa yang memuat hampir keseluruhan peristiwa sejarah disebut Babad. Hampir semua raja Nusantara, utamanya diwakili oleh Mataram, memerintahkan untuk menulis kembali peristiwa sejarah berdasarkan kejadian dan menurut kondisi sosial politik yang terakhir terjadi. Sebagian besar maskah tersebut memuat 6000 halaman.
Catatan kaki:
1. Islamisasi di Jawa, Walisongo penyebar Islam di Jawa, menurut penuturan Babad.
2. Adnan Wahyudi, kisah Walisongo penyebaran agama Islam di Tanah Jawa, Surabaya Bina Ilmu, tt

Tidak ada komentar:
Posting Komentar