Selasa, 06 Agustus 2019
HOTS (Higher Order Thinking Skill)
HOTS awalnya dikenal dari konsep Benjamin S. Bloom dkk, dalam buku berjudul Taxonomy of Educational Objectives: The Classification of Educational Goals (1956) yang mengategorikan berbagai tingkat pemikiran bernama Taksonomi Bloom, mulai dari yang terendah hingga yang tertinggi.
Konsep ini merupakan tujuan-tujuan pembelajaran yang terbagi ke dalam tiga ranah, yaitu Kognitif (keterampilan mental seputar pengetahuan), Afektif (sisi emosi seputar sikap dan perasaan), dan Psikomotorik (kemampuan fisik seperti keterampilan).
HOTS sendiri merupakan bagian dari ranah kognitif yang ada dalam Taksonomi Bloom dan bertujuan untuk mengasah keterampilan mental seputar pengetahuan. Ranah kognitif versi Bloom ini kemudian direvisi oleh Lorin Anderson, David Karthwohl, dkk. pada 2001.
Urutannya diubah menjadi enam, yaitu:
Mengingat (remembering)
Memahami (understanding)
Mengaplikasikan (applying)
Menganalisis (analyzing)
Mengevaluasi (evaluating)
Mencipta (creating)
Tingkatan 1 hingga 3 dikategorikan sebagai kemampuan berpikir tingkat rendah (LOTS), sedangkan tingkat 4 sampai 6 dikategorikan sebagai kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS).
Menurut Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti, Prof. Intan Ahmad, Ph.D., HOTS adalah satu cara untuk menguji apakah seseorang bisa menganalisis, membandingkan, menghitung, dan sebagainya. "Jadi memang diperlukan kemampuan yang tidak biasa. Bukan hanya sekadar mengingat atau menghafal saja," jelas Prof. Intan.
Contoh soal standar hots, "Mengapa nyamuk bisa terbang lurus, belok, atau bertahan di udara? Lalu, mengapa burung yang juga bisa terbang bisa memiliki kecepatan yang lebih tinggi?"
HOTS merupakan salah satu tuntutan keterampilan dalam pembelajaran abad 21, yaitu berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar