Ruhku terbang menjauh
Ketika malaikatku lirih mengepak-ngepakkan sayapnya
Aku masih tak tersadarkan diri
Seakan bumi dan langit tak pernah bisa bertemu
Nafasku sesak oleh air mata yang terus mendung menggunung yang siap menumpahkan segala isi hati
Aku masih tak tersadarkan diri
Oleh egoisme yang mengalahkan takdir Tuhan
Malaikat bersayapku patah dua
Oleh alunan irama tangis menyayat hati yang saling bersahut-sahutan
Malaikatku tersenyum
Dibalik kerongkongannya dan merasakan sakit luar biasa
Malaikatku tegar
Disekelilingnya telah berjejar malaikat-malaikat kecilnya yang bergantian membacakan asma Tuhan di telinga nya
Sambil memerdukan ayat-ayatnya
O, Malaikatku telah diapit oleh Izrail
Terus terbang semakin menjauh
Sampai senyap tak lagi menguap
Yang tertinggal hanyalah serpihan-serpihan cerita seperti puzzle, menyusun masa lalu untuk kemudian menjadi kaca agar bisa melihat ironinya kisah lembayung di senja hari
Malam itu
Dingin tak berujung
Angin bertiup tak terasa sepoinya
Malam tak kelihatan gelapnya
Bulan redup redam
Bintang takut gemerlapan
Suara-suara binatang malam mengumpat dalam desakkan waktu
Takut mengeluarkan suara
Semua hening
Sepi dalam kekhusyukan mendampingi malaikat-malaikat bersayap menghadap kepada Tuhan
O, inilah malaikatku
Yang tak pernah peluh mengeluh walau keringat kering di kulit
Inilah malaikatku yang bersimbah peluh dalam dinginnya pagi di rumah-rumah orang punya yang tak memiliki rasa tega
Demi malaikat-malaikat kecilnya agar bisa bersuara dan membacakan tasbih untuknya
O, Tuhan seru sekalian alam
Ketika tulang tak lagi kekar
Menopang tubuh
Ketika sakit mulai menggurita
Ketika punggung tak lagi ada rasa
Ketika hujan air bah membanjiri jalan-jalan yang tak punya selokan
Ketika suara Guntur saling bersahut-sahutan
Malaikatku beranjak meninggalkan kediaman dalam bingkai cita dan harapan
Kelak malaikat-malaikat kecilnya tak ada bernasib sama
Malaikatku rela bersakit-sakitan
Demi sebuah investasi human capital yang diyakininya
O, Tuhan seru sekalian alam
Kini Malaikatku telah beranjak pergi
Berlari riang melintas ruang waktu Tak lagi menoleh
Hidup Malaikatku bak taman-taman surga
Duduk bersama keluarga dalam kenikmatan yang panjang tak berujung
Bersama ayah ibunya yang lebih dahulu beranjak
O, Malaikatku
Tinggalkan kami dalam do'a untuk menyapamu
Kami kirimi Fatihah dan doa yang berseliweran di mulut-mulut malaikat-malaikat kecilmu
Lihatlah
Mereka sudah mengenalmu lebih dari yang engkau kira
Tinggalkan kami dalam kedewasaan hidup
Yang kenyang oleh kegetiran yang pernah engkau ceritakan dalam tema-tema pengiring tidur
O, Malaikatku tersenyumlah
Dalam dekapan Tuhan mu yang begitu sangat menyayangi lebih dari segalanya
Kisah haru birumu
Menjadi photo dalam bingkai dinding rumah
Agar menjadi ibrah dan teladan malaikat-malaikat kecilmu.
Selamat jalan Malaikat bersayapku
Doa ikhlas malaikat-malaikat kecilmu biarlah menjadi penghias di alam barzakhmu
Amin.
Shared with https://goo.gl/9IgP7

Tidak ada komentar:
Posting Komentar